Kisah
Mengharukan Umar Bin Khattab Saat Masuk Islam
Inilah kisah mengharukan
detik–detik Umar Bin Khattab masuk agama Islam. Dia mendapat hidayah Allah berkat doa Rasulullah SAW. Doa itu dikabulkan
oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu pilar kekuatan
Islam. Sedangkan Amr bin Hisham meninggal dunia sebagai Abu Jahal.
Sebagai umat Islam tentu kita tidak
asing dengan nama Umar bin Khattab. Dia adalah salah sabahat dekat nabi
Muhammad. Kisah hidupnya sangat mengharukan. Namun tidak sedikit umat Islam
yang sudah tahu bagaimana kisah dia, sebelum mualaf dan setelah mualaf.
Umar bin Khattab bin Nafiel bin
Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khattab (581- November 644)
adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad yang juga khalifah kedua Islam
(634-644). Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah
SAW.
Ayahnya bernama Khattab dan ibunya
bernama Khatamah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang
menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta
warna kulitnya coklat kemerah-merahan. Umar dibesarkan di dalam lingkungan Bani
Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Nasab Umar bertemu dengan nasab
Rasulullah pada kakeknya Ka’ab. Antara beliau dengan Rasulullah selisih 8
kakek.
Sebelum mualaf atau masuk Islam,
Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum
Muslimin. Ia bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya dan melakukan
perbuatan-perbuatan jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Umar masuk
Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul
Muthalib masuk Islam. Dikisahkan, suatu malam Umar bin Khattab datang ke
Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan salat
Rasulullah SAW. Waktu itu Rasulullah membaca surat Al Haqqah. Umar bin Khattab
kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri. “Demi
Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy.”
Kemudian beliau mendengar
Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Alquran bukan syair).
Lantas beliau berkata, “Kalau begitu berarti dia itu dukun.” Kemudian beliau
mendengar bacaan Rasulullah ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Alquran bukanlah
perkataan dukun) akhirnya beliau berkata, “Telah terbetik lslam di dalam
hatiku.” Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan
terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.
Kemudian pada suatu hari, beliau
keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Rasulullah SAW. Dalam
perjalanan, beliau bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki
dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, “Mau kemana wahai
Umar?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.”
Pria tadi berkata, “Bagaimana kamu
akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka
Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama
nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih
mencengangkanmu, hai Umar? Sesungguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah
meninggalkan agama yang kamu yakini.”
Kemudian dia bergegas mendatangi
saudara perempuannya yang sedang belajar Alqur’an, surat Thaha kepada Khabab
bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab
bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang
didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata,
“Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.”
Umar bin Khattab menimpali,
“Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.” Saudaranya
menjawab, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada
agamamu?” Mendengar ungkapan itu Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan
berdarah, karena tetap saja saudara perempuannya itu mempertahankan agama Islam
yang dianutnya. Ketika melihat wajah saudarinya berdarah, Umar menjadi iba
kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat.
Umar bin Khattab berkata, “Berikan
kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.” Maka adik
perempuannya berkata, “Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali
orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” Lantas Umar bin Khattab mandi
dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat
Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan
Rasulullah.
Ketika Khabab mendengar perkataan
Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri
kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang
didoakan Rasulullah pada malam Kamis, “Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin
Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.”
Waktu itu, Rasulullah SAW sedang
berada di rumahnya.” Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah
tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin
Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya
kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya,
“Ada apa kalian?”
Mereka menjawab, “Umar datang!”
Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan
kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka
kita akan membunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Rasulullah menemui Umar bin
Khattab dan berkata kepadanya, “Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya
Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.” Dan dalam riwayat lain, “Ya
Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”
Seketika itu pula Umar bin Khattab
bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan
keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin
Mas’ud berkomentar, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin
Khattab masuk Islam.”
Komentar
Posting Komentar